Minggu, 17 Januari 2010

Sama Bukan Berati Sama

Aku terlahir sebagai anak kembar. Tapi bukan kembar identik. Ibuku bilang kepalaku menyembul ke dunia ini terlebih dahulu sebelum Fadil, adik kembarku. Orangtuaku member nama yang sama sekali tidak bahwa kami kembar. Baguslah. Aku senang dengan keputusan yang mereka buat. Aku memang tidak suka di sama-samakan dengan kembaranku.
Dari kecil, kami terbiasa dengan perbedaan yang ada diantara kami. Entah kenapa, walaupun aku dan adik kembarku berada dalam satu tempat yang sama selama Sembilan bulan dalam perut ibuku, aku merasa orang yang sangat berbeda dengan adik kembarku. Secara fisik dan mungkin mental.
Adikku mempunyai postur tubuh yang lebih tegap dan berwajah tampan. Sedangkan aku, postur tubuhku biasa saja. Bahkan cenderung agak besar dari ukuran adik kembarku. Wajahku pun tidak setampan wajah adikku. Sampai sekarangpun aku tidak mengerti kenapa. Perbedaan fisik kami pada awalnya bukan suatu masalah besar bagiku, sampai akhirnya kami menginjak masa remaja.
Ketika di SMU, aku tidak mempunyai begitu banyak teman. Beda dengan adik kembarku yang pergaulannya luas. Temanku hanya terdiri dari beberapa orang saja. Itupun jarang sekali yang mengunjungi ku ke rumah. Sedangkan adikku, hamper setiap malam dia di banjiri oleh tamu-tamu, teman sekolah, teman basket, tean karate, teman pencinta alam dan teman-teman lainnya.
Begitu juga dalam hal percintaan. Aku baru merasakan pacarang ketika aku berada di bangku SMU, sedangkan adikku sudah menebarkan pesonanya sejak dia masih duduk di bangku SMP. Entah sudah berapa kali dia bergonta-ganti pacar. Mungkin yang terakhir ini adalah pacar ke duapuluh delapan. Aku? Ah, tidak usah ditanya. Merasakan pacaran saja sudah bagus bagiku. Aku hanya dua kali berpacaran sampai sekarang. Itupun dengan perjuangan yang cukup berat untuk mendapatkan sang pujaan hatiku. Sampai akhirnya suatu hari aku mengetahui bahwa pacarku jalan dengan adik kembarku. Saat itu aku sangat marah pada adikku, dan pacarku. Tapi aku diam saja. Besoknya aku memutuskan untuk mengakhiri kisah cintaku dengan dia.
Perlakuan kedua orangtuaku mulai memperlihatkan perbedaan. Mereka selalu menyanjung adik kembarku ketika mereka mengambil raport di sekolah atau ketika adikku memenangkan suatu lomba yang di ikutinya.
“ Fadil emang pinter. Anak kebanggan ayah ibu. Tuh, Ndi..coba donk di contoh adikmu. Masa Fadli terus yang jadi juara kelas. Kamu juga belajar yang rajin donk. Masa kalah sama adik kamu.” Begitu kata ayahku selalu. Dan aku benci mendengar kata-kata seperti itu.
Lalu entah sejak kapan, aku mulai membenci adik kembarku. Dan aku ingin memiliki apa yang dia punya.
Aku jadi jarang berkomunikasi dengannya. Hanya jika ada keperluan. Aku mulai menarik diri dari dirinya dan keluargaku. Aku lebih sering menghabiskan waktu di kamar.
“Kak, male mini gw mau keluar bareng temen-temen. Ayah-ibu juga kayaknya mau pergi. Lo ga kemana-mana kan? Jaga rumah ya”. Begitu katanya suatu malam padaku. Aku hanya diam sambil terus menatap televise yang ada di depanku. Dalam hati, ku berkata “Pergilah, aku lebih suka sendiri di rumah daripada harus berdua denganmu!
“Kak, lo denger gw ga?” Ulangnya. Kali ini dia berdiri tepat di hadapanku sambil memasang tampang polosnya.
Ku anggukkan kepala tanda mengerti.
“Yaudah. Dasar aneh….” Kudengar dia berkata tapi nyaris seperti berbisik.
Deg.
Hati ini terasa sakit. Sakit bercampur benci. Mengapa dia berkata seperti itu padaku? Dia menganggap aku ANEH? Hah, aku tidak aneh. Aku benci kata aneh. Terlebih pada orang yang mengatakan bahwa aku aneh adalah adik kembarku. Kebencian yang selama ini ada, entah bagaimana telah berada pada puncaknya. Dengan tatapan dingin, aku melangkah keluar ketika adikku masih sibuk dengan pakaian dan sepatunya. Di bagasi ku pandangi mobil yang akan membawa adikku menikmati mala mini. Lalu, tanpa berfikir panjang, ku berjongkok ke bagian bawah mobil. Aku merayap ke dalam bagian bawah mobil dan menarik kabel rem mobil itu.
Besoknya ku dengar suara jeritan Ibu dibawah sana ketika menerima telepon dari rumah sakit. Adikku mengalami kecelakaan tadi malam. Mobilnya masuk jurang ketika perjalanan pulang dari puncak. Tapi adikkua selamat.
Perasaanku campur aduk ketika aku, ayah dan ibu berada di rumah sakit untu melihat keadaan adikku. Sedikit merasa bersalah pada adikku. Tapi ketika ku lihat keadaan dia, aku merasa kelegaan yang sangat.
Dia memang selamat. Tapi wajahnya tidak setampan dulu. Banyak bekas luka gores di seluruh mukanya, yang menjadikan dia terlihat ANEH.
Sambil menatap dirinya yang masih tertidur, ku sunggingkan sebuah senyuman untuknya dan berkata “ Tenang, De…gak usah sedih karena mukamu aneh. Kita berduakan memang kembar…”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar