Minggu, 17 Januari 2010

Harta Berharga.....

“ Yah, kenapa mereka mukulin orang-orang itu?” Tanya jagoanku suatu malam, sehari sebelum keberangkatanku ke Amsterdam, ketika kami sekeluarga sedang menonton tayangan kekerasaan yang terjadi di Ambon belum lama ini.
“itu karena mereka tidak paham dan mengerti tentang hak yang manusia punya.Makanya nanti klo jagoan ayah udah besar, harus bias memperjuangkan hak-hak orang lemah yang tertindas. Mengerti?’ jawabku.
Seketika dia berdiri tegak di depanku dan meletakkan tangan kananya pada ujung dahi, memberi hormat, sambil berkata “ Siaaapp, bos!”
Dan kami sekeluarga pun tertawa.
Anakku sayang, dia adalah primadonaku di dalam keluarga ini. Matanya bulat besar, menandakan keingintahuannya yang besar terhadap sesuatu. Aku yakin dia akan menjadi anak yang kuat dan berguna untuk dirinya dan orang-orang di dekatnya nanti. Aku tahu itu. Aku yakin.
“Kamu berangkat jam berapa besok, Mas?” Tanya Suciwati, istriku tersayang. Dia adalah wanita terhebat yang pernah aku temui selain ibuku. Wajahnya selalu menenangkan batinku ketika aku merasa kecil dan sendiri dalam perjuanganku. Dia selalu ada untuk mendukung setiap langkah yang ku tempuh dan menyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja.
“kayaknya penerbangan siang atau sore. Aku juga belum tahu persis, nanti ada orang yang telpon aku buat kasih kabar.”
“Oh, gitu. Oya, Mas…kamu butuh jaket berapa potong? Aku mau beresin barang-barang yang mau kamu bawa.”
“satu aja, cukup kok”.
“satu? Bawa dua aja ya…Di Amsterdam kan lagi musim dingin, Mas”
“Yah, boleh juga. Terserah kamu aja deh.” Jawabku sambil tersenyum menatap istriku. Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa sudah lama sekali tidak memegang tangannya dan bilang terimakasih.
“ Terimakasih ya, sayang…..” kataku sambil memegang tangan istriku.
“kamu ini kenapa si, Mas? Kok tiba-tiba jadi sok romantic gini.Udah ah, nanti keliatan anak-anak, malu!” Balas Suci sambil tersenyum malu.
Ah, dia cantik sekali ketika sedang tersipu. Rasanya jadi berat meninggalkan rumah. Sempat terlintas di pikiranku, apa rasanya jika tidak ada dia dalam hidupku. Aku pasti menjadi orang yang paling menderita.
Perjalanan dari Jakarta menuju Amsterdam memakan waktu 12 jam. Cukup lama. Bisa mati bosan aku dipesawat. Untunglaj istriku sudah menyiapkan sebuah buku bagus untuk membunuh waktu.
Didalam pesawat, aku sempat bertukar sapa dengan pantun Matondang, sang pilot. Lalu aku menyibukkan diri dengan membaca. Beberapa jam kemudian, untuk pertama kalinya, aku merasa jenuh membaca. Aneh, Tidak pernah sebelumnya aku merasa jenuh ketika membaca. Dan, entah kenapa, aku jadi teringat keluargaku. Tiba-tiba aku merindukan mereka. Aneh. Biasanya aku tidak merasa serindu ini. Ah, mungkin sebaiknya aku tidurnya saja sebentar supaya pikiranku lebih baik dan tenang ketika aku bangun nanti.
“permisi, Pak Munir.Ada yang ingin Bapak pesan?” kata seorang pramugari membangunkanku.
“Oh tidak, Terimakasih.Ngomong-ngomong, sekarang jam berapa ya, mba?” tanyaku
“jam 10 lewat 5, Pak”
“Ya, terimakasih”
“saya ada di belakang kalau bapak butuh sesuatu”
Aku menganggukkan kepala sambil tersenyum padanya.
Beberapa menit, aku sempat terdiam. Merasa sesuatu yang tidak beres pada tubuhku, tapi memutuskan untuk melanjutkan membaca. Beberapa jam kemudian, rasa tidak enak pada tubuhku semakin tidak karuan. Aku bolak-balik ke toilet karena sakit perut dan muntah-muntah. Kepalaku juga terasa pening. Tubuhku lalu mengeluarkan banyak keringat, padahal udara didalam pesawat cukup dingin. Aku lalu meminta air mineral kepada seorang pramugari. Aku juga memita untuk dicarikan seseorang yang bias membantuku, akan lebih baik lagi jika ada dokter. Alhamdulillah, ternyata ada seorang dokter di pesawat ini. Sambil menunggu dia dating untuk memeriksaku, aku berusaha untuk bias mengendalikan rasa sakit yang menyerangku. Sakit apa aku? Jantungku baik-baik saja. Seingatku aku tidak enderita penyakit berat. Tapi rasanya tubuhku sakit sekali. Aku merasa lemah.
Lalu, aku teringat sesuatu. Sebelum naik pesawat ini aku sempat meminum the ketika singgah di Changi. Jangan-jangan….pikiranku mulai berlalri-lari menimbulkan rasa mual yang memuncak.
Astagfirullah, rasanya sakit sekali…meskipun sudah meminum obat yang dokter itu berikan, rasa sakit yang ku alami tidak kunjung pergi. Badanku terasa lemah ketika ku bersandar di dinding kamar mandi. “ Ya Allah, sakit sekali” batinku dalam hati.
Ah, apakah aku akan mati sekarang? Di sini? Tidak, aku tidak boleh mati sekarang. Masih banyak hal yang harus aku lakukan. Kasihan mereka. Orang-orang itu, mereka membutuhkan bantuanku. Siapa yang akan membela mereka jika aku pergi sekarang? Lagipula aku ingin melihat anak-anakku tumbuh besar. Aku bahkan ingin punya seorang anak lagi. Aku ingin bertemu dengan istriku lagi.
Kembali ku rasakan sakit yang mengggit tubuhku. Tidak terpikirkan olehku siapa yang mencoba membunuhku. Aku sekarang sibuk memikirkan keluargaku. Belum sempat ku membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya, tiba-tiba semua terasa kabur, Sakit yang ku rasa semakin membawaku tertarik lekuar tubuh ini.
Dan entah bagaimana, aku tiba-tiba merasa ringan. Lalu aku hamper pingsan karena di hadapanku, tergolek sesosok pria.Aku mengenal sosok itu. Itu adalah aku.
Aku sudah mati. Aku tidak berada di sana lagi. Di dunia tempat semua kejadian baik dan buruk terjadi.
Kurasakan tubuh ini begitu ringan hingga terasa terbang. Merasa diri ini bisa melayang dan terbang, segera ku layangkan tubuh ini ke tempat yang aku ingin kukunjungi sebelum aku benar-benar pergi meninggalkan dunia.
Kulihat istriku sedang duduk di depan komputer, mengetik sesuatu. Aku tidak bisa membacanya dengan jelas. Mungkin karena aku sudah mati.
Aku mencoba menyentuhnya, dan memanggilnya. Tapi dia tetap menatap lurus ke monitor itu. Tidak mendengarkan panggilanku. Tidak merasakankah dia sentuhan tanganku? Aku putus asa. Dan ku putuskan untuk duduk tepat di depannya sambil memandangi wajahnya.
“ Ibu…” tiba-tiba terdengar suara mungil dari balik pintu kamar kami. Itu si bungsu!
Betapa senangnya hati ini ketika melihatnya berjalan kea rah istriku, meminta untuk di peluk.
“ Kenapa belum tidur, nak? Banyak nyamuk ya?” Tanya Suci
Dia tidak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya sambil memberikan tatapan manjanya.
“Mau bobo sama Ibu,” katanya
Suci kemudian mengendng si kecil ke tempat tidur. Belum lama berselang, datang anakku yang pertama menyusul.
“Lho, kamu juga belum tidur, sayang?” Tanya istriku heran. Anak-anak ini sepertinya mengerti sesuatu yang tidak orang biasa mengerti.
“Aku mau bobo sama ibu aja” katanya
“Sini, nak. Kita bobo bertiga mala mini. Tapi sebelumnya, kita berdoa dulu, supaya Ayah selamat dan diberi kemudahan dalam semua urusannya”
“Amin” jawan anak-anakku kompak
Mataku terasa perih, entah kenapa. Lalu pandanganku pun mulai kabur dan berbayang. Aku tidak bias melihat sejelas tadi. Jadi ku dekatkan tubuhku pada mereka yang sedang meringkuk di balik selimut. Ku cium satu per satu kening mereka dan berbisik, berharap mereka akan mendengar “Jangan menyerah pada keadaan, keluargaku.Percayalah bahwa yang benar akan selalu menang. Tetap berjuang di jalan benar. Perjuangan ayah hanya sampai disini, sekarang tugas kalian meneruskan. Kalian adalah harta yang paling berharga yang pernah ayah miliki. Selamat tinggal keluargaku. Istriku, anak-anakku tercinta. Allah melindungi kalian”
Dan aku mulai memudar…Lalu menghilang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar