Minggu, 17 Januari 2010

Hati-Hati Dengan Janjimu..

“Katakan padaku, kenapa kamu mau menikah denganku? Tanyaku datar
“aku sayang sama kamu. Aku merasa kamu orang yang cocok dengan aku. You are my Soulmate. Aku jatuh cinta sama kamu” jawabnya berapi-api
“ Really?” Lirikku sinis
“kamu boleh ambil jantungku kalo aku bohong”
“…..” Aku diam
“jadi, kamu mau menikah denganku?”
“oke. Kita menikah”
“ Yes…! I Love you, Natya. Aku janji akan selalu jadi orang yang cinta kamu. Ga aka nada orang lain dalam kehidupan kita nanti. Aku janji akan bahagiain kamu”
“I hope you’ll keep your words” ku sunggingkan sebuah senyum di ujung bibirku. Senyum ketidakpercayaan.
Aku sendiri sebenarnya tidak begitu tertarik untuk membangun sebuah keluarga. Trauma! Mungkin satu kata itu yang bisa menggambarkan alasan kenapa aku enggan menikah. Dari kecil aku selalu berada di lingkunga orang-orang yang merusak keindahan dan kesakralan kata “pernikahan”.kedua orangtuaku bercerai ketika umurku 12 tahun. Sejak umurku 9 tahun, tidak pernah ku lihat mereka rukun atau duduk bersama menonton televisi atau sekedar sarapan bersama. Mereka selalu bertengkar. Entah apa yang di ributkan. Ibu berteriak, dan ayah memukul. Mereka seperti kesetanan setiap kali bertengkar. Awalnya mereka bertengkan dibelakangku, tapi semakin aku bertambah umur, mereka tidak peduli lagi apakah aku melihat atau tidak. Aku pun sudah merasa biasa dengan pemandangan seperti itu. Dari rasa takut dan tidak nyaman, menjadi biasa dan rasanya seperti melihat sebuah pertunjukan teater. Dan aku menikmatinya. Aku senang melihat ibuku melempar sebuah piring kea rah ayahku dan mengenai kepalanya hingga berdarah.
Sering kali aku bertepuk tangan melihat aksi ibuku. Aku benci ayahku. Ibu bilang, ayah brengsek. Dia main gila dengan seorang perempuan cantik dan lebih muda di kantornya. Aku jadi membenci perempuan-perempuan cantik.
Paman dan tanteku juga bercerai. Kali ini ulah paman yang senang menggoda Mba Yati, seorang gadis desa cantik yang datang setiap hari untuk membersihkan rumah mereka. Paman meniduri Mba Yati dan tante mengetahuinya. Dasar laki-laki brengsek!
Lalu, tiga tahun yang lalu, dua orang sahabatku memutuskan untuk bercerai setelah satu tahun berumahtangga. Jarak perceraian mereka hanya berselang 2 bulang. Suami-suami mereka ketahuan berselingkuh dengan wanita-wanita di tempat mereka bekerja. Dua sahabatku hancur secara fisik dan mental. Mereka mengalami depresi berat sehingga pekerjaan mereka terbengkalai dan akhirnya karier mereka hancur. Aku semakin benci pria.
Kebencianku pada mahluk yang bernama pria belakangan ini mulai sedikit menipis. pertemuanku dengannya terjadi sekitar dua setengah tahun yang lalu dari seorang teman. Namanya Yosep Andika. Tampan, tubuh atletis, berpendidikan dan sudah cukup mapan di usia 28 tahun. Dia baik hati, sabar, romantic dan pengertian. Tetap saja rasa ketidakpercayaanku pada kaum adam ini tidak berubah. Aku masih tetap menganggap mereka brengsek. Tapi entah bagaimana dia berhasil sedikit demi sedikit mengikis rasa ketidakpecayaanku. Sampai dia berhasil mengajakku menikah.
Lima tahun sudah berjalan. Aku mulai menikmat kehidupan baruku. Rasa percayaku terhadap lelaki mulai tumbuh. Semua berjalan baik-baik saja. Aku hidup bahagia bersama Yosep di sebuah rumah di pinggir Jakarta. Karier kami pun berjalan baik seiring kehidupan kami. Bahkan Yosep mendapatkan tawaran menjadi General Manajer di perusahaannya bekerja. Aku? Aku memutuskan untuk membuka usaha butik di sebuah mall bersama teman-temanku. Suatu hari Yosep tiba-tiba mengatakan bahwa dia ingin mempunyai seorang anak. Tentu saja aku terkejut. Aku belum memikirkan kalau aku akan mempunyai anak. Aku belum siap menjadi seorang ibu. Tapi dia benar. Sudah lima tahun usia pernikahan kami, jadi demi kebahagiaan Yosep, aku akhirnya berusaha untuk mendapatkan anak darinya.
Segala usaha sudah kami usahakan untuk mendapatkan seorang anak, tapi aku ternyata belum hamil juga. Entah kenapa aku merasa perilaku Yosep mulai berubah. Dia selalu pulang lebih larut dengan muka lelah dan selalu tidur lebih awal. Biasanya dia selalu menyempatkan untuk sekedar mengobrol denganku sebelum kita tidur. Ketika ku Tanya ada apa, dia hanya berkata “ Ga papa, biasa. Masalah kantor”. Aku hanya diam. Jika masalah kantor, aku mengerti. Aku harus mengerti.
Jantungku serasa lepas dari dadaku ketika suatu sore aku melihat suamiku memasuki sebuah restoran jepang sambil memeluk seorang gadis cantik, putih, tinggi dan lebih muda.Mungkin umurnya dua atau tiga tahun lebih muda dariku. Siapa dia? Kenapa suamiku ada di mal sore hari bersama seorang perempuan? Apa suamiku tidak bekerja hari ini? Tidak. Tidak mungkin suamiku berselingkuh. Dia tidak akan melakukannya. Dia sudah berjanji padaku. Dia sudah berjanji hanya akan ada aku. Dia bahkan berjanji kalau dia bersedia memberikan jantungnya sebagai jainan jika dia berkhianat. Dia tidak mungkin mengkhianatiku! Tidak akan. Penasaran, aku ikuti dan buntuti mereka. Dari mulai mereka makan sampai selesai, lalu mereka masuk ke dalam mobil suamiku dan meluncur menuju suatu tempat. Aku langsung mengikuti kemana mereka pergi. Dalam perjalanan, pikiranku kacau balau. Pikiran-pikiran jelek dan jahat mulai merasuki otakku. Bagaimana jika benar suamiku berselingkuh? Bagaimana aku bias menerima kenyataan ini? Bagaimana dia bisa mengkhianati aku? Apa salahku? Apa karena aku belum bisa memebrikan anak untuknya? Atau apakah aku sudah tidak secantik dan semenarik dulu?
Aku sudah tiba disuatu tempat di daerah komplek perumahan mewah di Depok. Mau kemana mereka sebenarnya? Hatiku berdebar-debar kencang, memikirkan apa yang akan terjadi. Mobil yang mereka naiki berhenti di sebuah rumah mungil tapi cantik yang terletak paling pojok. Mereka keluar dari mobil dan berjalan masuk menuju pagar rumah tersebut. Aku terus mengamati dari balik kaca mobilku. Tiba-tiba, dari dalam rumah tersebut, berlari seorang bocah kecil berumur sekitar 3 tahun dengan rambutnya yang panjang, keriting menjuntai ke punggung. Lucu sekali. Tapi, aneh rambutnya seperti rambut Yosep. Keriwil.
“Papah, Mamah….” Teriak si bocah lucu sambil berlari kea rah Yosep.
Papah?? Kenapa dia memanggil suamiku “papah”? Ada apa ini? Apa maksudnya semua ini?
Dengan mata basah karena pandangan yang menusuk mata ini, aku tetap menatap ke depan, memerhatikan setiap gerak gerik yang mereka lakukan.
Dari sisni dapat ku baca bibir suamiku berkata “ Anak papah, sayang..udah lama ya nunggunya? Yuk kita masuk. Papah-Mamah punya hadiah buat kamu”.
Deg.
Untuk beberapa detik, mulutku menganga tidak percya melihat apa yang baru saja terjadi.
Dengan perasaan tidak karuan, aku memetuskan untuk pulang. Dalam perjalanan, aku menangis. Aku menjerit seperti orang kesetanan. Aku tidak bisa menerima ini. Terlalu menyakitkan bagiku.dia sudah berjanji hanya akan mencintaiku. Dari perasaan marah, kesal, kecewa dan sakit hati, perasaan lain mulai muncul di hatiku. Perasaan BENCI yang dulu pernah ada dihatiku selama bertahun-tahun kepada kaum laki-laki itu muncul lagi. Dengan pandangankosong, aku berkata dalam hati “ Kamu udah janji, sayang…aku boleh mengambil jantung kamu klo kamu sampai ingkar sama janji kamu…kamu udah janji, dan kamu harus tepati janji kamu!!”
Aku duduk manis di sofa menunggu suamiku pulang. Pandanganku kosng. Tapi pikiranku penuh, dipenuhi rencana-rencana.
Teet, teeet….bunyi bel di rumahku terdengar nyaring.
Ku dengar Jono bergegas ke gerbang untuk membukakan pintu. Kulirik jam di samping lukisan bali. Jam 11 malam.
“Hai sayang. Kok belum bobo? Kenapa kamu sakit? Yuk pindah ke kamar. Ngapain di sini sendirian. Gelap-gelapan lagi. Serem ih, diliatnya” Dia mengatakan dengan ringan dan ceria seperti tidak terjadi apa-apa.
Aku lalu berdiri dan berjalan masuk ke kamar.
Didalam kamar, aku masih mematung, tidak berkata-kata. Aku hamper menangis ketika memandag punggung suamiku. Bagaimana kau bisa mengkhianatiku, Yosep? Apa salahku? Lalu ku beranikan diri membuka mulut dan berkata “ Kamu masih inget janji kamu ke aku, sebelum kita menikah dulu?”
“ Janji? Janji yang mana? Janji kalo aku akan tetap mencintai kamu selamanya? Tentu aku inget. Kenapa sih, sayang?” Tanya dia sambil berjalan ke arahku dan berlutut di depanku.
Ah, rasanya sakit sekali menatap mata itu. Mata orang yang aku cintai tapi berkhianat.
“Kamu masih cinta sama aku? Kamu gak akan berseligkuh di belakang aku kan?” kataku datar tapi tajam.
“ Kamu ini ngomong apa sih? Aku gak akan mengkhianati kamu, aku cinta sama kamu. Kamu segala-galanya buat aku. Ada apa ini, tiba-tiba kamu ngomong kaya gini?”
“Kamu jangan bohong sama aku. Aku udah liat semuanya. Aku lihat kamu tadi sore bersama seseorang, dan aku lihat anak kecil yang memanggil kamu papah”. Suaraku mulai bergetar. Perasaanku bercampur marah, kecewa, dan benci.
“ Kamu…kamu lihat dimana?” suamiku tampak terkejut mendengar perkataanku.
“Jadi benar, kamu punya istri lain dan sudah punya anak? Jadi benar kamu berselingkuh selama ini? Benar semua itu? Jawaaaaaab?!!”
Teriakku tak terkendali.
Yosep berusaha menenangkanku dengan memeluk erat dan berkata “ Tenang dulu, sayang. Denger dulu penjelasan aku. Masalah ini gak gampang”
Dengan sekuat tenaga aku melepaskan diri dari pelukan dia. Tapi pelukannya terlalu keras. Aku tetap berada dalam pelukannya.Aku menangis dan meronta-ronta sambil berteriak. Dia tetap memelukku dan tidak mau melepaskan diriku.
Sampai akhirnya aku lelah dan berhenti meronta-ronta, ku dengar dia membisikkan kata
“ Maafin aku, sayang…aku cinta kamu.Tapi aku juga mencintai orang lain. Kita bisa tetap hidup bersama. Oke?”
Darah yang ada dalam tubuhku rasanya seperti mendidih. Mataku merah menatap matanya. Nafasku memburu karena menahan amarah di dada. Apa katanya? Dia mencintai orang lain? Dia telah mengkhianati aku!! Aku tidak bisa terima ini. Tidak!!!.
Lalu, dari balik kantong celanaku, ku keluarkan sebuah belati yang sudah ku persiapkan sebelumnya. Dan sambil menatap matanya, ku hujamkan belati itu tepat di jantungnya.
“Aauuuhhhh….Natya. apa yang….kamu…kenapa?” Yosep pun terjatuh, melepaskan pelukannya dari tubuhku.
Aku tetap berdiri menatap Yosep yang terjatuh ke lantai dengan lumuran darah di dadanya. Perasaan ku hampa. Kosong.Gamang.
“Kamu udah janji, Yosep. Aku boleh ambil jantung kamu kalo kamu bohongi aku”
Tidak lebih dari beberapadetik kemudian. Kulihat tubuh suamiku membatu, tidak bergerak.
Begitu juga dengan diriku. Aku menatap kosong ke depan.
Ada dua orang tua duduk dihadapanku ketika aku sedang duduk di taman suatu sore. Laki-laki dan perempuan. Aku tidak ingat siapa mereka. Mungkin salah seorang temanku dulu atau saudaraku. Entahlah, aku memainkan boneka yang aku bawa sambil bersenandung kecil. Mereka tetap duduk di hadapanku. Lalu mereka menyebutkan sebuah nama “ Natya…apa kabar?, kamu sehat,nak” kata si perempuan itu. Aku tetap diam, tapi beberapa menit kemudian aku bertanya pada seorang perempuan berpakaian putih-putih yang selalu menemaniku, siapa mereka? Dia berkata “ mereka orangtua Ibu Natya, Ibu tidak ingat?”
Aku memandang sekali lagi kepada mereka. Aku tetap tidak ingat. Kulihat wanita tua itu lalu menangis, Dan sang pria kemudian memeluknya.
Aku tidak mengerti kenapa mereka menangis dan apa yang mereka tangisi. Aku kembali asik bermain dengan boneka berwarna merah yang berada di tanganku. Bagus sekali boneka ini, bentuknya seperti jantung, Jantung hati kekasihku. Aku telah mengambil jantung hatinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar