Minggu, 17 Januari 2010

Mau Mati Aja Ko’ Repot!!

“ Mau Mati Aja Ko’ Repot” say Gusdur hehehe….
Langsung aja deh..
Ini cerita tentang kematian, eit jangan takut dulu, saya tidak akan membuat cerita horror seperti sutradara film Indonesia yang sekarang sedang gemar sekali menyodori masyarakat kita dengan film-film tentang setan, pocong, kuntilanak, suster(dari susternya lagi ngepel sampe susternya lagi keramas) halah! Kok jadi ngebahas ginian sih…
Ceritanya gini, dimulai dengan ketika usia si X ini (karena ini cerita tentang temen saya), duwh diulang lagi deh. Dimulai ketika usianya 8 tahun. Saat itu dia sering sakit-sakitan. Orang tuangnya sangat mengkhawatirkan keadaannya yang sangat lemah. Dalam seminggu dia hanya masuk sekolah dua atau tiga hari saja , selebihnya hari-harinya dihabiskan di rumah skait untuk periksa ini dan itu lah (buset…penyakitan banget ya?). pada waktu itu dia tidak mengerti dan gak tahu ada apa dengan dirinya. Yang dia tahu, dia merasa sakit di dadanya jika dia kecapean atau habis berlari kencang. Waktu itu penyakitnya pernah kambuh hanya karena dia mengejar tukang es cendol di depan gang rumahnya (tukang cendolnya goncengan sama Rossi kali yah?)
Ibu guru dan teman-teman disekolahnya sering menanyakan dia sakit apa, tapi dia selalu menggeleng-gelengkan kepala, karena dia benar-benar tidak tahu apa penyakitnya. Tapi lama kelamaan dia juga penasaran. Lalu ketika suatu malam sebelum tidur, dia menanyakan kepada ibunya apa sebenarnya penyakit yang ada di badanya? Ibunya bilang, dia sakit lemah jantung. Ada masalah di jantung yang harus diobati dan ditangani oleh dokter selagi dia masih kecil supaya masalah jantungnya bisa diatasi dan segera sembuh. Lalu dia mengajukan pertanyaan kepada Ibunya lagi “ kata dokter, aku kapan sembuhnya Bu? Masih lama? Kalo aku gak sembuh, gimana Bu?”
Ketika itu ibunya tidak menjawab dan malah menangis. Besoknya, karena masih penasaran denga pertanyaan yang belum di jawab, dia menanyakan hal yang sama. Tapi kali ini kepada kakaknya yang sudah duduk di bangku SMU. Dan kakaknya mengatakan jika dia tidak berhasil diobati, dia akan meninggal dan kalau meninggal katanya akan pergi kesurga.
Ke surga? Surga itu dimana ya? Pertanyaan it uterus menerus mengiang-ingang di kepalanya. Lalu hari selanjutnya dia bertanya pada ayahnya, dimana surga itu. Ada apa disana, dan bagaimana kesana, dan siapa saja yang boleh pergi ke surga. Ayahnya bilang surga itu jauh sekali. Tidak bisa di capai dengan mobil, kereta dan pesawat terbang. Lalu, disurga ada malaikat-malaikat baik hati, bidadari-bidadari cantik dan istana yang besar dan indah. Pokoknya semua yang kita inginkan ada disurga.
“Lalu bagaimana caranya ke surga dan siapa saja yang boleh tinggal disana?” tanyanya pada ayahnya
Kita bisa ke surga apabila kita sudah tidak hidup lagi, dan orang-orang yang boleh tinggal disana orang-orang yang taat beragama, yang selalu beruat baik dan anak-anak kecil yang belum berdosa. Ah…apakah saya termasuk orang-orang yang bisa masuk dan tinggal disana, Yah? Ayahnya hanya menatapnya lalu tersenyum.
Lalu dia menbuat jawaban sendiri, yah sepertinya saya bisa masuk ke dalam golongan orang-orang yang masuk surga. Kan saya masih kecil dan belum begitu banyak melakukan dosa, lagipula saya selalu menurut dan berbuat baik pada Ibu, Ayah dan Kakak, gumamnya dalam hati.
Karena kepolosannya dia memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa ke surga. Ah, saya kan sedang sakit. Kebetulan sekali kalau begitu tidak akan sulit membuat saya untuk pergi ke surga, mungkin sebentar lagi saya akan mati, lalu saya akan tinggal di surga. Ah…saya jadi tidak sabar menunggu mati.
Suatu saat ketika selesai diperiksa dia mendengar pembicaraan ibunya dengan dokter.
“jadi bagaimana perkembangan anak saya, Dok?” Tanya Ibunya
“kondisi jantung anak ibu mulai membaik. Tapi ingat, ibu harus menjaga makanan dan kondisi anak ibu dengan baik “ jawab Pak Dokter ramah.
Oh iya jangan sampai anak ibu makan jajanan pingir jalan apalagi semacam es cendol yang dijual di sekolah-sekolah atau dekat rumah.zat pewarnanya bisa membahayakan jantungnya” jelas sang dokter lagi.
“Aha…” teriaknya dalam hati. Saya bisa cepat mati kalau saya jajan di jalan dan makan es cendol. Ah…saya emang pecinta berate s cendol. Kebetulan sekali!! Saya tidak harus makan racun.
Seminggu kemudian ketika disekolah seminggu penuh dia membeli dua bungkus, eh tiga bungkus, mm….empat dink, empat bungkus es cendol diujung gang rumahnya. Wah…dia sangat menikmati es cendol itu dengan harapan besok dia bisa mati dan bisa kesurga dan bertemu bidadari cantik dan malaikat baik hati.
Ketika esok harinya, lah kok saya masih merasa berada di tempat yang sama di tempat yang kemrin saya tiduri. Loh, dimana saya? Apa saya masih ada di rumah? Apa di surga? Mengapa surga bentuknya persis dengan rumah saya? Apa saya belum sampai di surga? Beribu pertanyaan yang ada di pikirannya…
Karena kemarin merasa usaha belum maksimal maka keesokan harinya dia makin menggila. Tidak hanya es cendol yang dilahap tapi jajanan pingir jalan juga dilahap.
Tapi hari demi hari berjalan dengan tanpa ada perubahan dan tanda-tanda bahwa dia akan mati. Dia malah kelihatan makin sehat. “ Ah, sepertinya saya tidak akan pernah mati dalam waktu dekat ini, gagal deh aku ke surga”
Waktu terus berganti. Dan akhirnya temanku yang oon ini beranjak dewasa…(gak mati-mati ceritanya). Dia menjalani kehidupan dengan wajar seperti biasa, karena masih terobsesi dengan surga, selama kehidupannya pun dia selalu berprilaku baik, selalu menjalankan semua yang diperintahkan Agamanya. Dia berusaha tidak menambah dosanya agar sewaktu-waktu jika dia mati, bisa tetap ke surga.
Diam-diam dia masih berharap untuk bisa pergi secepatny ke surga, tentunya dengan cara yang halal. Tapi di masa remaja dia tidak mendapatkan kesempatan untuk mati secara halal, dia terus menunggu saat itu hingga akhirnya….
Sewaktu kuliah sepertinya dia mempunyai kesempatan untuk mati secara halal. Suatu ketika… seorang sahabatnya mengalami kecelakaan mobil dan terluka parah. Dia langsung menjenguknya malam itu karena kondisinya snagat parah, dia kehilangan banyak darah dan ginjalnya rusak tertusuk benda tajam. Lalu muncullah idenya yang konyol
“saya akan menyumbangkan ginjal saya dan semua organ yang dia butuhkan. Saya senang sekali dapat melakukan hal itu, karena itu akan membuat saya mati namun tetap secara halal” bisiknya dalam hati
Tapi sungguh malangnya nasibnya ketika dia sudah bersedia mendonorkan ginjalnya, tiba-tiba dokter berkata bahwa barusan ada seorang psien lain yang meninggal dan dia bersedia menyumbangkan ginjalnya.
“Ah…Saya tidak jadi mati donk” pikirnya
Lalu ketika itu datang lagi kesempatan lain, dia ditawari oleh yayasan kemanusiaan untuk pergi ke medan perang di Afganistan sebagai sukarelawan yang merawat tentara cidera.
Namun sudah hamper enam bulan dia berada di medan perang, keadaannya tetap sama, sehat wal afiat tanpa kurang satu apapun.
Dan sekarang dia sudah berkeluarga, dan memilki dua orang anak. Dan dia cukup bahagia dengan keluarganya. Namun entah mengapa dia belum bisa melupakan bagaimana caranya mati secara halal dan bisa kesurga.
Kehidupanpun terus berjalan. Ketika melahirkan anknya yang ketiga kondisinya sangat lemah. Dia hampir tidak bisa melihat dengan jelas muka anak yang baru dia lahirkan. Dan kita sempat berfikir inilah saatnya dia pergi dan kesurga, namun ternyata….!!! Padahal dokter berkata saat itu umurnya tidak akan lama lagi.
“Ah…saya akan mati juga. Akhirnya setelah sekian lama”
Tapi kalau aku mati, bagaimana nanti nasib anak-anakku? Siapa yang akan mengurus suami dan anak-anakku? Lalu pekerjaanku? Orangtuaku yang sudah mulai tua, siapa yang akan mengurus mereka kalau bukan aku? Ah…tidak bisa. Aku tidak bisa mati sekarang. Nanti saja lah, mereka masih membutuhkanku. Tapi..ini kesempatan baikku. Dari dulu aku menantikan kesempatan bisa mati seperti ini, dari lubuk hatiku yang paling dalam aku ingin sekali mati. Tapi saya tidak bisa mati sekarang masih banyak yang membutuhkan aku dan sepertinya saya tidak bisa meninggalkan mereka. Saya sudah terlanjur mencintai mereka melebihi keinginan besarku untuk mati dan pergi ke surga.
Okeh…baiklah saya harus segera membuat keputusan sebentar lagi negosiasi akan berakhir. Saya akan memutuskan untuk tetap ada di dunia ini untuk mereka. Saya harus merelakan kesempatan emas ini.
Tidak lama kemudian dia siuman, dan tersenyum kepada kami…lalu berkata
“saya tidak jadi mati lagi….tapi kali ini saya senang tidak jadi mati”
Allah maha tahu kapan waktu yang pantas untuk Dia mengambil miliknya, tak ada seorangpun yang tahu kapan dia akan pergi, untuk itu perbanyaklah point agar kita semua bisa mendapatkan reward atas apa yang telah kita lakukan. Semoga kita semua tergolong orang-orang yang pantas tinggal di surga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar